Minggu, 24 Juli 2011

Model keuangan Baitul Maal Masjid


Oleh : Muhammad Yunus

Landasan sejarah
Baitul Maal telah dimulai dari semenjak Rasulullah Saw berada di Madinah. Rasulullah Saw meminta beberapa orang sahabat yang bertugas untuk memungut zakat bagi mereka yang telah sampai nisab dan kemudian membagikan langsung kepada mereka yang berhak sesuai dengan ketentuan dalam QS. Attaubah ayat 60. Zakat adalah kewajiban ekonomi bagi masyarakat muslim yang memiliki kekayaan yang telah sampai nisab. Sedangkan untuk selain non Muslim di kenakan Kharaj dan Jizyah. Dimana penggunaan kedua ini untuk menjamin keamanan non Muslim berada dalam Negara Islam Madinah.
Pada masa Rasulullah Saw menghapuskan pungutan pajak yang memberatkan seluruh penduduk Madinah. Pungutan ini dikenakan kepada setiap orang. Baik yang memiliki kelebihan harta maupun tidak. Kebijakan keuangan ini dihapus oleh Rasulullah dan digantikan dengan kebijakan keuangan berupa Zakat, Kharaj dan Jizyah. Kemudian untuk membiayai operasional perang, paceklik dan permasalahan lainnya Rasulullah mengeluarkan sebuah kebijakan keuangan berupa Infak dan Shadaqah.
Landasaran alqur’an & As Sunnah
  1. Q.S Attaubah :60
  2. Q.S Albaqarah 2-3
Model akuntansi
                Penerapan model akuntasi pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid menggunakan model penyaluran zakat untuk penerimaan zakat, infak, sedekah yang diterima oleh Masjid. Sedangkan Wakaf memilki kekhusan bagi wakaf muqayyadah. Sedangkan wakaf biasa membutuhkan perlakuan khusus berupa zatnya tidak boleh berkurang sedangkan manfaatnya dapat digunakan untuk kepentingan umum. Model pencatatan akuntasi pada penerimaan akan menyebut sumber pendapatan yang dibagi menjadi 4 sumber.
  1. Sumber Zakat. Pencatatan ini diperlukan untuk menentukan penerimaan dan penyaluran zakat yang tidak keluar dari asnaf 8. Dimana penyalurannya dapat diprioritaskan sesuai dengan realitas keberadaan mustahik.
  2. Sumber Infak. Pencatatan ini bersumber dari pendapatan masjid atas jasa yang diberikan masjid. Pendapatan infak bersumber dari penyewaan aula masjid, ambulance dan parkir. Pinjaman qard bagi masyarakat dan pendapatan lain atas kegiatan usaha masjid.
  3. Sumber Shadaqah. Pencatatan ini bersumber dari pemberian jamaah dan masyarakat lewat kotal amal, sumbangan rutin.
  4. Sumber Wakaf. Pencatatan yang bersumber dari wakaf berupa asset tetap seperti gedung, tanah, kendaraan. Maupun wakaf tidak tetap berupa wakaf produktif, wakaf uang.
Pengeluaran keuangan
Pengeluaran keuangan Baitul Maal Masjid tetap menggunakan system pengeluaran Zakat yang dibagi menjadi tiga prinsip utama. Pertama. Peningkatan Perekonomian yang merupakan bagian dari pembedayaan fakir dan miskin di lingkungan masjid. Kedua. Proteksi ekonomi merupakan bagian dari hak inbu sabil, algharimin. Ketiga akselerasi ekonomi yang bersumber dari memerdekakan budak dan muallaf. Pengeluaran keuangan Baitul Maal Masjid bertumpu kepada karakteristik ekonomi masyarakat sekitar masjid.
Pengelolaan keuangan
Sedangkan untuk pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid berdasarkan kepada:
1.       Akuntabilitas. Untuk mendapatkan standar akuntabilitas pengelolaan keuangan Baitul Maal Masjid dikelola oleh Sumber daya minimal telah mengikuti pelatihan akuntansi keuangan dan mengerti tentang system akuntansi.
2.       Transparansi. Pengelolaan keuangan menerapkan system transparansi berupa laporan keuangan berkala dan dapat di audit sewaktu-waktu. Bentuk transparansi adalah pelaporan keuangan bersifat terbuka.
Penutup
Penerapan baitul Maal Masjid dalam lingkungan masyarakat membantu beberapa aspek ekonomi, diantaranya mengurangi pegangguran, menguatkan perekonomian masyarakat dan terakhir adalah membebaskan penggunaan riba oleh masjid maupun jamaah dan tetangga masjid.
Powered by:
Magister Ekonomi Syariah
Univ. Azzahra
Jl. Jatinegara Barat no. 144

Minggu, 23 Januari 2011

RENDANG TELOR “SEHAT-I”

Ranah minang terkenal dengan kelezatan masakan. Hampir disetiap daerah kita akan menjumpai rumah makan padang. Salah satu masakan yang telah mendunia adalah rendang. Masakan rendang dengan bumbu terpilih dan terbaik menciptakan rasa lezat.

Salah satu kelezatan masakan Ranah minang yakni Rendang Telur. Inilah hasil inovasi masakan terbaru. Rendang Telur merupakan makanan khas dari daerah Payakumbuh Sumatera Barat.
Menurut cerita orang payakumbuh lah yang pertama kali menciptakan rendang yang berasal dari olahan telur ini. Telur dan tepung serta bumbu rendang diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan Rendang Telur yang begitu crispy, nikmat, renyah dan gurih.

Dengan warna coklat ditambah dengan bumbu yang matang sempurna memberikan kenikmatan tiada tanding. Suana makan terasa lebih nikmat bersama Rendang Telor “SEHAT-I”

Rendang telor “SEHAT-I” tercipta dari perpaduan bumbu asli rang payakumbuh, diolah oleh tenaga terampil dan profesional. Sangat cocok untuk menemani makan siang, malam dan juga sunguhan anda sehari-hari.
Dengan membeli Rendang Telor “SEHAT-I” anda telah membantu pengembangan Usaha Kecil dan Mikro di Ranah minang.

Tersedia dalam ukuran:
Harga : Rp. 15.000,- berat 150 gram
Rp. 30.000,- berat 300 gram
Rp. 45.000,- berat 500 gram
Rp. 90.000,- berat 1 kg.
Dan tersedia Paket Hemat Rp. 10.000,-dan Rp. 5.000,- bagi Reseller dengan minimum pemesaran 3 kg.

Pemesanan: Muhammad Yunus Telp + sms. 0831 8033 2903/0813 7435 3697 da. Jl Swadaya I no. 89 rt/rw 016/009 Kel. Pejaten Timur Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan.

No. Rek Bank Muamalat Indonesia 919 6326 299 an Muhammad Yunus. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kami antar gratis ongkos kirim minimal pemesanan 1 kg.

RENDANG TELOR “SEHAT-I”


Ranah minang terkenal dengan kelezatan masakan. Hampir disetiap daerah kita akan menjumpai rumah makan padang. Salah satu masakan yang telah mendunia adalah rendang. Masakan rendang dengan bumbu terpilih dan terbaik menciptakan rasa lezat.

Salah satu kelezatan masakan Ranah minang yakni Rendang Telur. Inilah hasil inovasi masakan terbaru. Rendang Telur merupakan makanan khas dari daerah Payakumbuh Sumatera Barat.
Menurut cerita orang payakumbuh lah yang pertama kali menciptakan rendang yang berasal dari olahan telur ini. Telur dan tepung serta bumbu rendang diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan Rendang Telur yang begitu crispy, nikmat, renyah dan gurih.

Dengan warna coklat ditambah dengan bumbu yang matang sempurna memberikan kenikmatan tiada tanding. Suana makan terasa lebih nikmat bersama Rendang Telor “SEHAT-I”

Rendang telor “SEHAT-I” tercipta dari perpaduan bumbu asli rang payakumbuh, diolah oleh tenaga terampil dan profesional. Sangat cocok untuk menemani makan siang, malam dan juga sunguhan anda sehari-hari.
Dengan membeli Rendang Telor “SEHAT-I” anda telah membantu pengembangan Usaha Kecil dan Mikro di Ranah minang.

Tersedia dalam ukuran:
Harga : Rp. 15.000,- berat 150 gram
              Rp. 30.000,- berat 300 gram
              Rp. 45.000,- berat 500 gram
              Rp. 90.000,- berat 1 kg.
Dan tersedia Paket Hemat Rp. 10.000,-dan Rp. 5.000,- bagi Reseller dengan minimum pemesaran 3 kg.

Pemesanan: Muhammad Yunus Telp + sms. 0831 8033 2903/0813 7435 3697 da. Jl Swadaya I no. 89 rt/rw 016/009 Kel. Pejaten Timur Kec. Pasar Minggu Jakarta Selatan.

No. Rek Bank Muamalat Indonesia 919 6326 299 an Muhammad Yunus. Untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kami antar gratis ongkos kirim minimal pemesanan 1 kg.

Jumat, 12 November 2010

Sendiri dalam sunyi

Sebuah kebaikan, memang lebih baik jika dilakukan tanpa diketahui oleh orang lain. Amal-amal ibadah, utamanya yang sunnah, menjadi sangat bernilai bagi kita, jika kita bisa melakukannya tanpa pengetahuan orang lain. Beribadah, bermunajat, mengadu, berdzikir, membaca ayat-ayat-Nya, sendirian. Tanpa orang lain, siapapun. Mengakui kealpaan, memohon ampunan, menyerahkan semua urusan kepada-Nya, sendirian. Tidak ada orang lain, siapapun.

Itu sebabnya, Allah Swt memerintahkan kita mengisi sepertiga malam terakhir, saat paling sunyi, dengan memperbanyak ibadah sunnah dan berdo'a. Soal kesunyian ini, Rasulullah Saw juga mengisyaratkan bahwa do'a seorang Muslim pada saudaranya, di saat sunyi dan tidak diketahui orang lain, cendrung lebih mustajab dan lebih mudah diterima oleh Allah Swt.

Ibnu Athaillah rahimahullah pernah membahas masalah ini lebih jauh dan dalam.Katanya, "kebanggaanmu bila orang lain melihat kelebihanmu adalah bukti ketidakjujuranmu dalam beribadah. Maka kosongkanlah pandangan orang lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu kamu tampil dihadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka," Ibnu Athaillah mengungkapkan sisi-sisi gelap dalam hati seseorang, yang sulig diraba keberadaannya. Ketidakjujuran seseorang dalam beribadah, ternyata bisa dinilai dari persaan bangga atau tidak bila ada orang lain yang melihat kebagusan ibadahnya.

Semoga Allah Swt membukan pintu rahmat dan ampunan-Nya untuk kita semua.

Saudaraku,
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengibaratkan suasana sunyi dan tenang itu sebagai pendingin bagi otak yang menjadi tempat berfikir. Ia mengatakan, "Otak diciptakan dalam keadaan panas (hangat) karena digunakan sebagai tempat untuk berpikir. Karena itu di dalamnya harus ada zat pendingin dan ia butuh tempat yagn tenah, kokoh, bersih dari kotoran dan noda, sunyi dan terhindar dari keramaian dan keributan." Ibnu Qayyim yang menjadi murid Imam Ibnu Taimiyah itu lalu menggaris bawahi bahwa pikiran yang bersih, daya inat yang hebat dan analisa yang tepat itu keluar ketika baan dalam keadaan tenang, tidak terlalu sibut dan terhindah dari goncangan-goncangan yang menyibukkan.

Begitulah saudaraku,
Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari beribadah dan melakukan amal kebaikan tapa pengetahuan orang. Para ulama mengatakan bahwa ibadah dan kebaikan yang dilakukan dalam kondsi sunyi, selain bisa lebih memberi kekhusyu'an, lebih meningkatkan keikhlasan, juga bisa mengajarkan kita untuk tidak memiliki sikap banyak bicara dalam bekerja dan beramal. Artinya, amal-amal diwaktu sunyi, mendidik pelakunya untuk lebih banyak bekerja daripada berbicara.

Ada istilah menarik tentang hal ini yang disampaikan oleh Abdul Qadir Al Kailani. Ia mengistilahkannya dengan kalimat ashumtu sindan, yang berarti diamnya rayap. Rayap binatang yang hampir tak pernah berhenti memakan kayu dan membangun rumahnya. Rayap bekerja nyaris tanpa suara, dan tak pernah berhenti. Pekerjaan yang dilakukan rayap, menurut Abdul Qadir Al Kailani, mengajarkan kita bagaimana bersikap gigi dan keseriusan bekerja serta melakukan banyak perubahan tanpa peduli apakah pekerjaannya itu dketahui oleh orang lain ataupun tidak. Perhatikanlah kata-katanya, "yang kuingini dari kalian adalah kerja-kerja tanpa bicara. Itu bisa dilakukan oleh orang yang mengerti dan bekerja karena Allah. Bak binatang rayap yang terus menerus mengerogot, tanpa kata-kata. Ia berjalan diatas bumi. Ia melakukan perubahan dan pergantian. Tapi bumi tuli terhdap kerja-kerja rayap." (Al Fathur Rabbani/36-37).

Saudaraku,
Semoga kita bisa terhindar dari suasana yang merusak upaya kita untuk terus menerus melakukan amal amal shalih. Semoga kita terjaukan dari perilaku yang menghalangi usaha kita dalam menebar kebaikan. Perhatian orang, pembicaraan orang, hingga ujian orang karena kita memiliki kelebihan dan kebaikan dimata mereka, bisa menjadi salah satu pintu fitnah. Karena itulah, para salafushalilh umumnya lebih gemar menjadi orang yang tidak dikenal, tapi memiliki prestasi ibadah dan pengorbanan yang sangat hebat. Mereka lebih senang beramal secara diam-diam dan tidak beritakan orang. Mereka lebih suka menjadi prajurit bayangan yang rela bekorban namun tidak dikethui dan tidak dikenal orang.

Saudaraku,
Hati mirip seperti mata, bisa melihat. Demikian yan dikatakan Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid dalam kitab Al Awa'iq. Sebagaimana mata, kemampuan hati dalam melihat berbeda-beda. Ada yang mampu melihat dari jarak yang cukup jauh. Ada pula yang bahkan tidak mampu melihat benda besr yang ada dihadapannya. Begitupun hati, ada yang bisa merasakan kekurangan dirinya yang besar dan banyak. Kekuatan pandangan hati, sangat kuat kaitannya dengan kekuatan pemahaman dan kekuatan cahaya iman di dalamnya. Hati bisa semakin menurun kualitas dan kekuatannya, karena kebodohan ilmu dan redupnya cahaya iman oleh kemaksiatan.

Waspadailah pujian yang bisa menurunkan kualitas hati meraba kekurangan dan aib diri sendiri. Salah satu do'a Ali bin Abi Thalib Ra yang terkenal ketika ia mendapat pujian dari orang lain, adalah: "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan tentang aku. Berikanlah kebaikan padaku dari apa yang mereka sankakan kepadaku. Ampunilah aku karena apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku."

Saudaraku,
Mari tenggelam dalam kesunyian. Hanyut dalam keheningan. Mendengarkan setiap tarikan nafas. Merasakan detak dan irama jantung. Bertafakkur, bermunajat, berdo'a, beribadah kepada Allah Swt di waktu sunyi. Saat tak ada orang lain yang mengetahui amal-amal kita. Ketika tak satupun orang yang memperhatikan kita...

Sumber Majalah Tarbaw edisi 86 Th. 5/Rabiuts Tsani 1425H/10 Juni 2004 M

Jumat, 22 Oktober 2010

Allah Bersyukur pada Mereka

Barangkali ada di antara kita yang belum tahu jika Allah Swt bersyukur kepada hamba-Nya. Allah Yang Maha Mulia dan Perkasa itu memang Maha Mensyukuri hamba-hamba-Nya yang melakukan amal-amal shalih. As Syaakir dan Asy Syakuur, adalah dua sifat Allah yang tercantum dalam Al quran, As Syaakir artinya, Maha Mensyukuri dan Asy Syakuur artinya Maha Menerima Syukur.

Tentu wajar jika ada seorang hamba yang bersyukur dan berterima kasih kepada tuannya. Wajiblah hukumnya, jika makhluk yang bersyukur pada Penciptanya. Tapi bagaimana jika Allah Swt yang bersyukur kepada hamba dan ciptaan-Nya? Itulah ke Maha Muliaan Allah Swt saudaraku.

Saudaraku,

Bukalah surat Al Baqarah ayat 158. Disana, Allah menyebutkan salah satu sifat Asy Syaakir. Allah Mensyuuri orang yang tathawa'a khairan atau melakukan kebaikan secara sukarela. Dalam kita Tafsir Ibnu katsir disebutkan, yang tathawa'a khairan adalah seluruh amal ibadah dan amal shaleh yang dilakukan dengan ikhlas. Ibnu Katsir menerangkan juga bahwa firman Allah pada akhir ayat tersebut, "Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui", artinya Allah Swt memberikan pahala atas amal yang sedikit dengan pahala yang banyak, dan Dia Maha Mengetahui kadar pahala yang ia berikan, sehingga tak seorangpun disia-siakan amalnya."

Begitulah saudaraku,

Allah memang pasti takkan menyai-niakan pahala orang pelaku kebajikan. Al Qur'an menerangkan banyak sekali tentang balasan Allah dengan melipatgandaan pahala. Satu dibalas dengan sepuluh, hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lipatan pahala yang tak terhingga. Itulah diantara bentuk syukur Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat baik. Orang yang meninggalkan sesuatu yang buruk karena Allah, akan diganti yang lebih baik dari yang ditinggalkan. Bentuk syukur Allah itu berujung pada pahala yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati seorang manusia. Surga.

Saudaraku,

Bukalah lagi surat an Nisa ayat 147, "Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." Lagi-lagi Allah Swt menyebutkan kalimat As Syaakir dalam firman-Nya. Disini disebutkan, Allah Mensyukuri orang-orang beriman yang bersyukur kepada-Nya. Ibnu Kasir menyebutkan, kandungan firman Allah pada akhir ayat ini adalah, "Allah mensyukuri orang yang bersyukur kepada Nya dan orang yang beriman di dalam hatinya, lalu ia memberitahukan bahwa hamba-Nya tersebut akan mendapatkan pahala yang sangat banyak."

Imam Qurthubi mengulas ayat ini. "Allah mensyukuri ketaatan hamba-Nya. Arti syukur Allah kepada mereka adalah dengan memberi mereka pahala dan menerima amal mereka yang sedikit, diganti denganpahala yang sangat banyak. Arti ayat ini juga menurut Al Qurthubi adalah, Allah tidak akan mengazab orang beriman yang bersyukur kepada-Nya."

Saudaraku,

Kelompok ketika yang Allah syukuri adalah orang yang 'meminjamkan' pinjaman yang baik. Lihatlah firman Alah surat At Taghabun ayat 17. "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman (qardh) yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Menerima Syukur (Syakuur) lag Maha Penyantun (Haliim). Al Hasan Al Bashri mengomentari ayat ini dengan menyebutkan bahwa semua kata qardh (pinjaman) yang baik dalam Al Quran adalah amal shalil baik khususnya shadaqah atau amal lainnya yang dilakukan secara tulus dan ikhlas karena Allah.

Saudaraku,

Manusia terbagi menjadi tiga setelah mereka mendengar ayat ini, kata Ibnul Arabi. Pertama, ada yang mengatakan, "Tuhan Muhammad fakir dan membutuhkan kita sebagai orang kaya." Hal ini dijawab Allah Swt dalam surat Ali Imram ayat 181, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang orang yang mengatakan bahwa Allah itu fakir dan kamilah yang kaya." Kelompok kedua, orang yang menjadi kikir dan bakhil setelah mendengar ayat ini dan semakin mencintai hartanya. Ia malah malas mentaati Allah dan tunduk pada dunia. Kelompok ketiga, orang yang berlomba untuk mengeluarkan hartanya untuk mendapatkan pinjaman yang lebih baik dari Allah Swt. Seorang sahabat Abu Dahdah yang terbina secara Qurani melakukan hal ini.

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa ketika turun ayat Allah, "Barangsiapa yang memberi pinjaman yang baik kepada Allah..."surat al Hadid ayat 11, Abu Dahdah mengatakan, "Demi aya dan ibuku ya Rasulullah. Sesungguhnya Allah menawarkan pinjaman pada kita, padahal Allah Maha Kaya dan tidak memerlukan pinjaman itu." Abu Dahdah mengatakan, "jika aku meminjamkan kepada Tuhanku lalu aku dijamin masuk surga?" Rasulullah menjawab, "ya." Abu Dahdah lalu menuntun tangan Rasulullah dan mengatakan, "Aku mempunyai dua buha kebun, yang satu ada di dataran rendah dan ada yang di dataran tinggi. Aku tidak punya lagi selain kedua kebun itu dan aku telah jadikan keduany apinjaman kepada Allah." Rasulullah menjawab, "Jadikan satu saja, yang satu lagi untuk penghidupanmu dan keluargamu." Ia mengatakan, "Akubersaksi padamu ya Rasulullah bahwa aku menjadikan yang paling baik dari keduanya untuk Allah." Rasul lalu menjawab, "Kalau begitu Alah akan membalasmu dengan surga."

Saudaraku,

Ingin menjadi orang yang mendapatkan syukur Allah? Syukur menurut Asy Salabi adalah, sikap tawshu dalam memelihara ketaatan, melawan syahwat, serta selalu mendekati Sang Perkasa Penguasa Bumi dan langit.

Sumber tulisan dari Majalah Tarbawi edisi 92 Th. 6/Rajab 1425 H/2 September 2004 M