Tampilkan postingan dengan label Beyond Mesjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beyond Mesjid. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Menggeser Bank Keliling Cara Cepat

Keberadaan bank keliling yang dikelola orang perorang maupun memiliki badan hukum disatu sisi amat membantu kebutuhan masyarakat terutama pedagang kecil yang tidak memiliki syarat kelayakan mendapatkan modal pinjaman dari perbankan syariah, maupun perbankan konvensional berbasis riba.

Fatwa DSN Majlis Ulama Indonesia tentang bunga pinjaman menyatakan keharaman. Kemudian disusul dengan berbagai fatwa untuk mengakomodir kebutuhan lembaga keuangan halal baik bagi individu muslim maupun perusahaan yang dimiliki oleh kaum muslimin.

Sosialisasi ulama dirasa cukup, pergerakan industri keuangan syariah meroket. Perkembangan lembaga amil zakat, infak dan sedekah juga tumbuh. Hal ini menjadi indikator bagi perkembangan perekonomian ummat. Perkembangan yang mampu menjadi solusi alternatif ummat Islam unggul sebagaimana garansi Allah swt.

Keunggulan ini membutuhkan sebuah terobosan dalam mensinergikan berbagai komponen. Teruma ustad dan khatib jumát beserta DKM. Masyarakat muslim terhimpun dalam rutinitas shalat berjamaah baik ditempat tinggal maupun ditempat berdagang. Hampir setiap masjid memiliki kemampuan finansial dari infak sedekah dan pengelolaan zakat dari jamaah.

DKM Masjid berfungsi sebagai amil (pengelola profesional) yang dipercaya oleh jamaah. Langkah cepat untuk menggeser ini adalah membentuk sistem keuangan masjid menjadi model keuangan Baitul Maal Masjid. Penggunaan uang infak jamaah bukan sekedar untuk mempercantik, memperindah dan memperbesar bangunan fisik masjid. Namun lebih pada menguatkan keimanan dalam berbagai sektor kehidupan.

Beberapa DKM seperti masjid Al-Azhar, dan beberapa masjid telah mampu melakukan transformasi tata kelola keuangan menjadi kekuatan pendayagunaan mustahik dengan program kreatif dan inovatif. Namun disisi lain masih banyak masjid lain terutama yang berada dalam pusat perdagangan menjadi kekuatan ekonomi ummat.

Langkah cepat adalah melakukan sosialisasi dan simposium berkala bagi DKM Pasar. Penyelenggara sepenuhnya adalah Dewan Masjid Indonesia sebagai organisasi yang mewadahi masjid-masjid seluruh Indonesia. Langkah ini memang butuh keberanian dari pengurus DMI Pusat hingga Daerah melakukan konsolidasi dengan mengundang DKM, MUI dan organisasi keagamaan seperti Muhammadyyah dan NU.

Beberapa organisasi keagamaan telah mendirikan Baitul Maal wat Tamwil. Namun yang berkembang adalah sisi usaha pembiayaan yang menggeser Bank Keliling. Sedangkan Baitul Maal sering tidak berjalan. Hal ini terjadinya mis manajemen pendistribusian dan metode penyaluran berdasarkan data akurat dari jamaah masjid dan juga tetangga masjid.

Bila distribusi dana zakat, infak dan sedekah berdasarkan data base masjid dengan melabitkan DKM Masjid, maka menggeser Bank Keliling dapat dengan cepat. Hal ini didukung oleh kajian tematik para daí dan muballigh.

Karena ummat telah lama terbuai oleh bank keliling sebagai jawaban kebutuhan, makasaatnya Baitul Maal Masjid terintegrasi menjadi jawaban.

Semoga Allah memudahkan langkah ini ke depan, amiin.

Kamis, 18 Juli 2013

Menata Bagi Hasil, Menghapus Riba di Pertanian Organik

Bagian dari Gerakan Baitul Muslimin Muzakki

Petani adalah lapisan masyarakat yang sangat menderita dalam struktur ekonomi ribawi. Petani menjadi konsumen dari berbagai kebijakan pemeritah dalam menata ekonomi dan keuangan nasional. Berbagai kebijakan subsidi lebih mengarah kepada masyarakat menengah keatas yang menggerakkan ekonomi. Bagi petani, maaf subsidi pupuk secara perlahan dihilangkan.

Petani hanya menjadi konsumen atas beberapa produk dan juga bulan bulanan dari harga komoditi petani yang tidak layak untuk hidup sejajar dengan kaum urban pekerja di sektor jasa dan industri diperkotaan. Akibatnya adalah banyaknya masyarakat terpinggirkan oleh sistem ekonomi.

Suku bunga minimun Bank Indonsia yang serang menyentuh level 6,50 (tahun 2012) menjadikan suku bunga kredit perbankan diatas 8 persen. Suku bunga kredit terendah masih dipegang oleh Bank Central Asia. Suku bunga rendah memang didapatkan oleh korporasi dan perusahaan. Bagi petani kebijakan terburuk menghancurkan sistem keuangan petani adalah Kredit Usaha Rakyat yang suku bunganya sampai 20%/pertahun.

Dengan suku bunga 20% pertahun, maka petani akan mengalami kehilangan nilai hasil pertanian 20%. Bila petani mendapatkan nilai pertaniannya 20.000.000,-/tahun, maka ia mesti kehilangan 4.000.000,-/tahun untuk membayar bunga kredit usaha rakyat.

Sedangkan bagi pedagang bila mengakses KUR maka ia mesti menambah harga untuk dapat keuntungan dan juga kemampuan dalam membayar cicilan pokok dan bunga. Maka yang menjadi korban tetap adalah konsumen.

Beberapa indikator yang menjadikan produk semakin mahal dengan ekonomi ribawi dibidang pertanian:
  1. Bunga modal yang digunakan oleh produsen bahan baku pupuk
  2. Keuntungan untuk kebelangsungan usaha produsen bahan baku.
  3. Keuntungan untuk bagi produsen pupuk dan bunga modal.
  4. Bunga pinjaman bagi distributor besar dan kecil.
  5. Bunga pinjaman bagi pemilik alat pertanian dan juga bahan suku cadang.
  6. Biaya upah yang semakin tinggi dengan kenaikan harga lainnya.
  7. Harga hasil pertanian yang ditambahkan keuntungan petani dan juga bunga kredit.
  8. Keuntungan bagi pedagang besar dan juga bunga modal dari pinjaman.
Dan masih banyak lagi berbagai atribut bunga dan keuntungan yang mesti dimasukkan dalam sebuah produk pertanian. Namun dalam kenyataan masyarakat petani tidak dapat menentukan harga jual dengan mengakomodir keuntungan maksimal dan bunga kredit. Namun hanya sering impas dan sering tekor. Hal ini mengakibatkan petani tepat menjadi miskin.

Maka wajar BLSM adalah jawaban pemerintah sementara waktu untuk tidak terjadi gejolak sosial politik menjelang pemilu.

Bagi hasil sebuah solusi.

Petani organik adalah petani yang menggunakan bahan demi bahan yang telah tesedia di alam. Petani menjadi produsen padi organik lebih sedikit besinggungan dengan bunga kredit dan juga kuntungan dari produsen pupuk dan pertisida.

Pola usaha petani organik adalah sebagian petani mempunyai pabrikasi pupuk organik yang diinvestasikan kepada petani lain dengan akad bagi hasil 5% dari jumlah panen. Dalam artikata menggunakan reveneu sharing. Pendapatan bagi hasil ini kembali digunakan untuk pembuatan pupuk lebih lanjut. Bagi petani penggarap sawah dan perkebunan terjadi efisiensi biaya diawal pengolahan lahan persawahan dan perkebunan.

Sedangkan pembayaran menggunakan hasil produksi dari usaha baik berupa padi maupun beruapa hasil ladang. Yang semuanya bermuara dalam penjualan yang sama kepada pedagang perantara. Untuk mengurangi biaya mahal dalam distribusi, maka dibentuk sebuah Rumah Organik sebagai wadah untuk penjualan hasil pertanian organik di suatu kawasan.

Pola rumah organik adalah menampung hasil pertanian masyarakat dan menjual dengan harga yang disepakati antara pemilik barang dengan penjual. Ada transaksi bagi hasil dari penjualan barang petani. Kespatakan adalah reveneu sharing sebanyak 2% untuk operasional rumah organik.

Pola ini menimalisir transaksi ekonomi dan keunagan dengan uang kertas sebagai alat tukar. Menggunakan komoditi yang lahir dari sektor riil ekonomi. Ada transaksi yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Maka masyarakat akan mampu untuk hidup lebih baik dengan tahapan:
  1. Mengurangi biaya pertanian tanpa menggunakan pupuk buatan dari luar
  2. Meningkatkan hasil pertanian 
  3. Bagi hasil dalam bentuk produk pertanian dan bukan uang
  4. Memiliki saluran hasil komoditi yang berbentuk produk
  5. Memiliki sistem terintegrasi untuk memaksimalkan perputaran uang dalam satu kawasan
Sistem ini menjadikan gerakan terbebas dari riba dan produk turunannya serta membawa masyarakat untuk mampu mengeluarkan zakat dalam bidang pertanian sebanyak 5%/panen untuk pertanian yang membutuhkan biaya perawatan dan juga biaya lainnya.

Maka tamsil alqur'an dalam surat albaqorah ayat 261 dan beberapa tamsil lainnya menjadi fakta dan kenyataan yang tidak terbantahkan. Semoga Allah mudahkan menghimpun kekuatan langit lewat karya produktif prestatif mereka yang menundukkan hidup tanpa keraguan dalam panduan firman-firmannya.


Jumat, 01 Oktober 2010

Transformasi Keuangan Mesjid

Masjid adalah tempat paling pertama yang dibangun oleh Rasulullah ketika ia hijrah ke Madinah atau kota Yatsrib. Masjid pertama yang beliau bangun adalah masjid Quba. Kemudian ketika beliau sampai di madinah maka bangunan utama yang menjadi perhatian beliau adalah masjid. Setelah Masjid dibangun maka beliau orang pertama menjadi takmir masjid.

Pembangunan masjid pada masa rasulullah memanfaatkan batang kurma sebagai tonggak bangunan, daun dan pelepah korma sebagai atapnya dan dinding dari tanah liat. Rasulullah membangun masjid sebagai sebuah kebijakan yang dapat menjadi sebuah kekuatan menyatukan beberapa perbedaan, menghilangkan kecemburuan dari kalangan kaum muslimin.

Pengelolaan masjid pada masa Rasulullah dipegang dan di manajemen sendiri oleh Rasulullah Saw. Mulai dari aktivitas ibadah solat, pertemuan beliau dengan delegasi untusan, majlis ilmu, dan juga tempat bermusyawarah menyelesaikan beberapa persoalan yang berkaitan dengan kaum muslimin.

Sistem keuangan masjid pada masa Rasulullah terintegrasi dengan keuangan kaum muslimin. Rasulullah mengelola keuangan kaum muslimin berdasarkan kepada ketentuan Zakat dan juga kebutuhan kaum muslimin. Zakat, infak dan harta rampasan perang adalah harta kekayaan yang didistribusikan untuk keperluan kaum muslimin.

Perkembangan selanjutnya pada masa khalifah Umar bin Khattab dilakukan sebuah administrasi tentang keuangan kaum muslimin pada tingkatan Baitul Maal. Di beberapa negara kebijakan tentang keuangan sebuah masjid terdapat beberapa perbedaan. Untuk Malaysia semua kebutuhan masjid dan juga sistem keuangan menjadi tanggungjawab pemerintahan. Untuk Indonesia semua kebutuhan dan juga sistem keuangan adalah tanggungjawab pengurus masjid.

Sudah menjadi tradisi setiap hari jum’at pengurus masjid memberikan laporan tentang keuangan masjid dari minggu ke minggu. Penyampaian laporan terdiri dari laporan kas masuk dan juga kas keluar untuk beberapa pengeluaran. Keuangan masuk terdiri dari penerimaan kotak infak yang dijalankan setiap hari jum’at ketika atau sebelum khutbah berlangsung, zakat dan penerimaan dari parkir, penitipan sepatu dan juga bagi hasil dari beberapa usaha masjid. Untuk bagi hasil dari beberapa usaha masjid tidak berapa masjid yang mempunyai laporan-sepengetahuan penulis-.

Keunggulan dari sistem laporan keuangan masjid adalah akuntabilitas dan transparansi dari pengelolaan keuangan masjid. Selain diumumkan pada hari jum’at menjelang khutbah berlangsung juga terdapat laporan tertulis di dinding masjid dan laporan berbentuk print out. Beberapa masjid untuk laporan di dinding telah diganti dengan laporan print out untuk menjaga estetika masjid. Dan beberapa masjid telah memiliki laporan yang dipublikasikan lewat web dan diaudit oleh akuntan publik, seperti masjid Sunda Kelapa di Jakarta Pusat.

Beberapa permasalahan dalam sistem pengelolaan keuangan masjid di berbagai masjid yang ada dapat di identifikasi kebeberapa hal:

Pertama, Surplus keuangan masjid sering menjadi permasalahan di beberapa tempat. Terdapat beberapa kebijakan surplus keuangan masjid di gunakan oleh pengurus atau di letakkan di lembaga keuangan non syariah.

Kedua, Keuangan masjid belum menjadi media untuk menyelesaikan beberapa permasalahan bagi jamaah dan masyarakat tetangga masjid. Masih di dapati masjid yang bagus berada di kawasan miskin dan masyarakat mengalami permasalahan air bersih, biaya pengobatan, terjebak rentenir dan kekurangan makanan.

Ketiga, orientasi dari keuangan masjid masih sering difocuskan kepada pembangunan fisik masjid dan perbaikan-perbaikan untuk memperindah masjid.

Dari tiga permasalahan tentang keuangan masjid yang ada dan menjadikan masjid sebagai jantung kegiatan dan perbaikan masyarakat perlu perubahan dalam kebijakan, sistem penggunaan dan juga alokasi pengembangan keuangan masjid untuk kegiatan memudahkan jamaah dan juga tetangga masjid.
Bersambung....

Kamis, 04 Maret 2010

Kitab Kanan Kiri

Seperti Detik jam yang belalu, ada rangkaian yang tidak bisa di putus yang telah melahirkan banyak prestasi dan juga tidak sedikit bencana. Ketika detik kebaikan di sambung dengan detik kebaikan maka kehidupan akan menjadi indah dan membahagiakan, namun ketika detik kejahatan, ketidakbaikan di sambung dengan detik kedengkian, dan detik kemalasan, detik ketidakjujuran, maka kehidupan akan menjadi ganas dn menggenaskan, salam sang pemenang pembelajar

-Muhammad Yunus Full-

Sel, 13 Rabiul awal pukul 6:31

Bagaimana persaan anda ketika datang seseorang yang dengan tiba-tiba memberikan sebuah catatan dari Facebook. Dalam catatan tersebut tedapat tulisan-tulisan yang telah ada sepanjang perjalanan facebook itu sendiri dan di dalamnya ada catatan chatting yang dilakukan. Ada pesan inbok yang masuk dan di kirimkan.

Beberapa diantara kita akan memberikan reaksi berbeda-beda.

Pertama, barang kali Anda merasakan yang senang dan membanggakan dengan hasil yang sangat megangumkan karna ia adalah hasil sebuah prestasi yang terekam dengan baik setiap kata yang tertulis. Ada menyambung persaudaraan, ada memperbaiki kerusakan hubungan dengan teman lama. Ada beberapa tulisan yang bagus. Ada status yang cantik di baca.

Kedua, barang kali Anda merasa biasa-biasa saja. Karna semua hanya sebuah kegiatan iseng yang tidak banyak memberikan makna apa-apa. Ada catatan aktivitas terbaru yang bergabung dengan grub dan halaman yang hanya untuk menumpang tenar atau menambah popularitas.

Ada silaturrahmi dengan teman-teman yang sekedar bahwa kita eksis dalam sebuah komunitas dengan pencapaian teman yang banyak. Pencapaian ini di jadikan sebuah kebanggan di depan komunitas tertentu saja.

Ketika catatan itu datang, banyak gambar-gambar yang beraneka ragam datang. Mulai dari yang terbaik, menjadikan diri Anda tergugah untuk berbuat kebaikan. Menjadi lebih baik dari hari ke hari dan dari waktu ke waktu. Juga terdapat gambar yang menjadikan Anda mendekat kepada penurunan kualitas diri. Gambar yang mengarahkan Anda pada berbuat kerusakan. Gambar yang menjadikan Anda sebagai seorang yang tidak baik.

Fenomena gambar ini terlihat jelas pada beberapa gambar valentine. Dari beberapa yang pernah singgah di wall (dinding) adalah gambar yang tak elok di pandang mata yang mengarahkan kepada yang tidak baik.

Ketiga, barang kali Anda merasa menyesal dan tidak mampu menahan gejolak emosi sedih dengan hantaran buku catatan aktivitas terbaru yang pernah di lakukan. Postingan-postingan yang lebih banyak berisi sebuah nada keluhan. Catatan yang berisi umpatan dan cacian. Komentar-komentar yang tidak bermanfaat dan penuh dengan kesia-sian.

Sebagaimana telah terjadi seseorang di hukum penjara di sebabkan oleh mencemarkan nama baik. Kasus ini terjadi di wlayah hukum bogor. Kasus seseorang yang cemburu di sebabkan oleh diganggunya sang pacar oleh teman sesama facebook. Menuliskan cacian dan makian yang merusak nama baik.
Kemudian kisah yang terjadi pada beberapa pelajar yang sempat menjadi headline berita nasional dan dikupas oleh berbagai pakar. Seorang murid menyampaikan sebuah nasehat yang amat berharga untuk ibu guru. Sebuah keberanian untuk mengungkap kebenaran. Keputusan final yang di salahkan adalah sang anak yang berani unjuk kebaikan dengan cara yang terbaik yang ia fikir mampu menasehati sang guru.

Catatan kita itu selalu hadir setiap saat kita melihat dinding kita, melihat komentar teman-teman yang selalu setia menimpali akan status baru kita. Melihat dan mengucapkan terima kasih akan jempol-jempol. Kemudian juga ada aktivitas terbaru kita menulis di komentar dinding atau status siapa.

Catatan itu tidak ada yang terlupakan sedikit pun. Apapun tercatat, ketika kita menghapus kiriman dalam system computer dan system facebook mempunyai rekam jejak. Inilah sering di gunakan oleh mereka yang mengerti tentang system sebuah computer berjalan.

Kemampuan ini sering di gunakan oleh para pelaku dalam bidang hukum, penyidikan, penyelidikan dan juga intelijen yang selalu memantau orang-orang tertentu.

Kitab Kanan

Dalam rentang waktu yang lama sebenarnya Allah swt telah memberikan sebuah peringatan jauh. Hal ini berdasarkan ayat surat al-Insyiqaq. Surat yang ke 84 yang diturunkan di periode dakwah nabi Muhammad Saw di Makkah.

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira”. (Q.S al-Insyiqaq 7-9)

Inilah yang menjadikan kita gembira ketika di sodorkan catatan kita (kitab) dari sebelah kanan. Pemberian dengan sebelah kanan adalah pemberian dengan kebaikan sebagai mana kita memberikan segala sesuatu dengan yang kanan.

Menyuap makanan dengan tangan kanan. Memberi sesuatu kepada orang yang Anda cintai dengan tangan kanan. Melakukan berwudu’ di mulai dari bagian kanan dari organ tubuh.

Catatan Anda dari aktivitas terbaru adalah sebuah pembuka terhadap tautan kegiatan yang lain. Niat Anda bukanlah untuk berbangga dengan apa telah di perbuat. Sesuatu semata untuk tidak di kenang oleh Anda maupun orang lain dengan mengiklaskannya.

Mengikhlaskan dengan cara menghapus pemberitahuan aktivitas terbaru. Ikhlas untuk menghapus pernyataan niat Anda yang di berikan pemberitahan terbaru oleh system. Karna cukup Anda yang tahu dengan rabb dan catatan dalam system computer dan malaikat. Disinilah kita menjadi pribadi yang tidak menyombongkan pertemanan dengan siapa pun. Pertemanan kita dengan orang tertentu berlandaskan bahwa setiap kita adalah bersaudara seaqidah setauhid, seiman dan seislam.

Mengiklaskan dalam memaafkan teman tentang kesalahan yang Anda lakukan. Aktivitas terbaru mencatat sesuatu yang tidak baik atau bergabung dengan grup yang membuat Anda menurun secara kualitas.

Kemudian setelah menghapus pemberitahuan dengan keihlasan dalam tidak dilihat oleh siapapun, keikhlasan untuk memaafkan diri dan menghapus beberapa hal lain yang menjadikan Anda dan teman-teman Anda mendapatkan sesuatu yang tidak bermanfaat.

Maka catatan itu kita lihat begitu indah, bagus, mudah untuk melakukan pemeriksaan. Karna tidak banyak pertanyaan yang muncul.

Kitab kiri

“Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang. maka dia akan berteriak: "Celakalah aku." Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangka bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya”. (Q.S al-Insyiqaq 10-15)

Maka ketika kita mendapatkan catatan yang di berikan dari sebalah kiri. Sebelah kiri adalah sebuah bentuk perumpamaan yang mengena untuk kegiatan yang di lakukan oleh organ tubuh membersihkan yang kotor.

Catatan itu berisi banyak hal yang bernada negative. Catatan yang berisi komentar yang naïf dan menyela atau mencaci maki. Postingan yang tidak mendekatkan seseorang ke jalan kebaikan. Postingan atau give gambar dengan menggunakan gift yang mendekatkan orang kepada kejahatan, ketidakbaikan atau merangsang seseorang untuk berbuat melanggar agama, keyakinan, norma susila dan etika.
Maka kita hanya mampu berteriak “Celakah aku”.

Kecelakaan yang kita tidak awas waspada dengan setiap hal yang di lakukan dalam postingan update status, menulis catatan, mengomentari status atau catatan teman. Memberikan apresiasi suka dengan jempol dan juga chatting yang telah kita lakukan.

Terkadang Anda merasa bangga dengan mampu membalas kejahatan orang dengan kejahatan serupa. Membalas cacian orang dengan cacian serupa atau bahkan menambahkannya. Terkadang malah menganjurkan teman, mengajak, mempengaruhi untuk terlibat dalam grub, atau halaman yang merusak diri.

Maka jadilah kita menjadi pribadi yang celaka dari sisi pandang manusia yang melihat Anda yang sekali-kali akan berkunjung melihat catatan postingan Anda dan mengetahui hampir seluruh kegiatan Anda baik yang mengandung kebaikan atau postingan up date status, pertemanan dan komentar yang tidak mengandung kebaikan.

Dari Kiri ke Kanan

Setelah Anda mengetahui di manakah posisi saat sekarang ini. Maka langkah berikut ini Anda butuhkan berubah dari yang tidak baik menjadi baik. Dari yang baik menjadi lebih baik.

Rasulullah bersabda dengan memberikan klasifikasi Anda menjadi:

Pertama “Siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi”. Postingan kita bisa di lakukan berdasarkan satuan waktu, seperti minggu atau bulan. Maka apabila minggu ini sama dengan minggu kemarin maka Anda di pastikan adalah merugi”

Kedua “Siapa yang hari ini lebih buruk daripada hari kemarin maka ia celaka”. Kecelakaan yang kita lakukan dengan pilihan-pilihan akan update status, menulis catatan, mengkomentari dan memberikan jempol-jempol bagi sesama.

Ketiga “Siapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin maka ia beruntung”. Seperti sebuah pohon yang selalu tumbuh daun baru setiap hari di berbagai ujung dahan, ranting baru. Semakin hari semakin banyak daun baru dan juga ranting yang mampu menghasilkan banyak oksigen dan juga memberikan kebaikan untuk pertumbuhan daun baru, akar, batang dan buah.

Maka ketika Anda melakukan kebaikan dan kebaikan dengan update status, catatan yang lebih baik maka Anda adalah manusia yang beruntung.

Kemudian langkah apa yang mesti Anda ambil:

Pertama. Memperbaiki niat (tujuan) untuk berfacebook. Jadikanlah ini sebagai sebuah bentuk wujud kebaikan dalam ibadah muamalah, ibadah social dengan orang lain. Tujuan akan menuntun Anda secara baik lewat sebuah gerakan alam semesta. Hal ini seperti sebuah low of attraction. Sesuatu itu akan bertemu dengan yang serupa atau sama. Seekor burung akan berkumpul dengan sendirinya dengan warna yang sama, bentuk yang sama.

Kedua. Memaafkan kekhilafan diri. Maafkanlah diri Anda terlebih dahulu dengan menghapus jejak-jejak kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Berterima kasihlah kepada diri Anda bahwa telah memberikan sebuah peringatan.

Ketika kita telah memaafkan diri sendiri pada saat itu maka kesalahan itu menjadi kebaikan yang terus memberikan dorongan untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Maka Anda telah menghapus aktivitas terbaru satu persatu. Aktivitas yang membebani psikologis Anda. Beban yang membuat bentuk Anda tidak sedap di pandang. Seperti pakaian kotor yang belum di cuci. Maka cucilah dengan deterjen Memaafkan.

Ketiga. Memulai mengupdate status secara perlahan dengan status yang memberikan energy positif seperti. “Assalamu’alaikum wr. Wb, semoga pagi ini kita adalah pribadi yang berbuat kebaikan”. “Assalamu’alaikum wr. Wb. Kita adalah apa yang kita fikirkan” dan bisa juga membuat status dengan mengutip kata-kata bijak, do’a, harapan, dukungan, hadist, al-Quran, nasehat atau hikmah.

Keempat. Memulai menulis catatan. Mulailah dengan catatan yang sedikit untuk memudahkan kebiasaan baru. Dalam update status di dinding terkadang terbatas hanya 420 karakter. Hal ini sering tidak bisa memuat keseluruhan. Inilah pengalaman penulis.

Kelima. Berkomitmen untuk stabil dari hari kehari atau dari minggu keminggu bagi kita yang terbatas dalam mengakses layanan dunia maya.

Keenam. Bergabunglah dengan komunitas yang mendukung Anda menjadi pribadi hebat. Banyak komunitas yang secara stabil melakukan pengiriman tulisan-tulisan bermutu, kisah-kisah inspiratif seperti para motivator dan acara-acara yang menggugah dan mendekatkan diri kepada keberpihakan kebaikan.

Ketujuh. Bertemanlah dengan mereka yang membimbing Anda. Seperti bereman dengan penjual parfum maka akan dengan sendirinya akan harum. Walau tidak memakai parfum itu sendiri. Maka mintalah referensi dari teman-teman tentang orang-orang yang selalu konsisten untuk membimbing orang lain.

Kedelapan. Mulailah mempelajari hal-hal baru diluar keahlian Anda. Membaca beberapa tulisan-tulisan yang bagus. Mempelajari sesuatu memberikan Anda cara pandang yang lebih luas dan juga lebih komprehensif. Maka ketika itu Anda telah menaikkan kualitas diri Anda menjadi lebih baik dari hari kehari.

Kesembilan. Sisihkanlah sedikit dari pengeluaran Anda sebesar 5-10% untuk membeli buku. Kebijakan ini bisa Anda baca di catatan “Mengelola Cash out Flow” di catatan yang terdahulu. Kebijakan ini secara perlahan menjadikan Anda pribadi yang berkualitas dan hebat. Anda telah mampu mengatur pengeluran sendiri untuk yang lebih bermanfaat.

Hanya sebuah fakta saja bahwa seseorang perokok mampu menghabiskan Rp. 10.000,-/hari untuk merusak diri, orang lain dan lingkungan. Dan juga seorang wanita mampu untuk membeli make up, aksesoris, baju baru, sandal baru, perhiasan baru yang hanya menjadi topeng sementara karna dia akan habis dan berganti dengan yang baru melebihi Rp. 5.000,-/hari. Maka cukup kita kalikan dalam hitungan hari, bulan dan tahun.

Kesepuluh. Berbagilah akan kebaikan dengan sesama. Banyak tulisan-tulisan di facebook yang telah di berikan oleh penulis untuk di bagikan. Kalau tidak maka minta izinlah untuk dapat membaginya kepada teman-teman Anda lainnya dengan menulis di komentar di bawahnya.

Ketika kita tidak mampu untuk menjadi bagian dari sebuah rangkaian proses kebaikan maka kita telah menambah catatan kebaikan kita dan menerima Kitab dari arah kanan.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bagian dari sebuah atom-atom kecil yang mampu menggerakkan atom-atom kebaikan lainnya untuk kita ummat yang terbaik (khairah ummah). Maka sebagai penutup dari tulisan ini. Mulailah dan jangan tunda esok atau lusa nanti.

-Muhammad Yunus Full-

Hari ini seperi bening sang air yang muncul dari sebuah mata air kecil di sebuah pengunungan, menelusuri lekuk pengunungan, melewati jurang, singgah di telaga, sungai, danau, dan perkampungan. Perjalanan ini akan bertemu banyak persoalan dan juga sampah-sampah kehidupan, namun ia akan tetap memberikan kehidupan, walau setelah sampai di lautan dan menguap menjadi awan di langit kehidupan ia kembali menjadi hujan

27 Januari 2010 jam 7:05

Salam sang pemenang pembelajar
Muhammad Yunus

Catatan:
1. Silahkan share tulisan ini kepada teman, keluarga untuk menggerakkan atom-atom kebaikan lainnya.
2. Silahkan untuk di print out dan di fotocopy dan diarsipkan atau di publikasikan di majalah dinding sekolah, kampus, majalah dinding keluarga CERDAS SEHAT-I.
3. Silahkan untuk dikritisi dan di luruskan manakala tulisan ini tidak sesuai dengan kaidah yang membawa kepada kebaikan-kebaikan.
4. Jadikanlah kita sebagai orang yang membantu untuk bersinergi dalam kebaikan dan ketakwaan.
5. Mohon do’a dan dukungan Anda, kami mampu dan konsisten dalam menulis dan bergerak dalam kegiatan CERDAS SEHAT-I dari Mesjid ke Mesjid dan Sekolah ke sekolah

Sabtu, 06 Februari 2010

Mesjid Institusi Pengemis

Pengalaman kita yang berakumulasi dari berbegai kegiatan-kegiatan kegamaan baik kegiatan pembangunan fisik, kegiatan peringatan dan juga acara-acara sosial telah menjadikan suatu biasa dalam budaya rumah suci bernama mesjid. Berbagai cara dan metode dilakukan, baik dari cara yang paling jadul sampai yang menggunakan metode terbaik dalam bidang presentasi dan juga media massa elektronik, maupun koran.

Mesjid sebagai tempat ibadah bagi pemeluknya telah mengalami berbagai pasang surut peranan dalam kehidupan ummat Islam. Pada zaman pertama di didirikan mesjid oleh Rasulullah mesjid di jadikan sebagai publik servis, sosio-politik, ekonomi, negara dan juga tidak terlepas sebagai pusat pendidikan dan ibadah.

Dalam beberapa perkembangan dalam dinasiti dan kerajaan mesjid menjadi sebuah intitusi yang mendepankan aspek pendidikan dan bukti keagungan sebuah peradaban berlandaskan islam. Namun siklus sejarah ini putus dan menjadikan hari ini sebahagian besar hanya menjadi publik servise untuk ibadah semata.

Ada sebuah ironi yang sangat menyakitkan dan itu adalah fakta di lapangan bahwa kalau ingin kencing dan berak gratis cukup datang ke mesjid dan mushalla. Dan juga tidak jarang menjadi penginapan bintang 1 bagi musafir yang tersesat dan juga beberapa orang yang menjadi kan mesjid sebagai tempat tinggal. Pada aspek tempat tinggal orang tersebut bisa jadi adalah pegawai mesjid, namun tidak tertutu kemungkinan adalah tunawisma dan juga pencari nafkah di kota.

Mesjid sebagai sebuah institusi pelayanan publik membutuhkan dana operasional. Dana operasional tersebut untuk gaji pegawai, biaya kebersihan, pemeliharaan, honor para khatib dan presenter agama, listrik dan air. Dana operasional ini di minta dari jamaah dengan menyediakan kotak amal yang tersedia.

Dalam beberapa penelusuran penulis dana taktis mesjid melebih kebutuhan dari dana operasional mesjid secara peridoe tertentu. Di sebuah kawasan perumahan DPR-RI di bintaro penulis mendapatkan kas mesjid melampaui 70 juta, mesjid di komplek DPR-RI sebanyak 40 juta rupiah. Dan tidak data ini bisa kita akses dalam setipa laporan pada hari jum'at dan juga laporan pada papan pengumuman.

Melihat dari laporan keuangan mesjid dari kacamata disiplin ilmu keuangan maka kinerja keuangan adalah garis biru. Mesjid mampu mencetak laba yang fantastis dengan hanya menyediakan jasa untuk publik servis ummat sholat.

Mengapa mesjid adalah institusi pengemis ada beberapa mentalitas dan budaya yang secara terbiasa kita lakukan sebagai ummat dan juga para pekuka agama. Pertama, penerjemahan tektual dari makna bersedekah yang hanya bergerak dalam cara berfikir materi. maka amat mudah untuk mengumpulkan uang dan juga bahan-bahan bangunan untuk membangun sarana fisik. Mentalitas meminta ini di amini oleh para kiyai yang rentan terhadap auto kritik kritis tentang aspek yang telah dianggap tabu dalam masyarakat. Kedua, Pengurus dalam aspek keilmuan, skill dan juga attitude tidak memeliki disiplin ilmu yang hetorogen dalam lintas ilmu pengetahuan. Ketiga. Pengaruh literatur dan cerita dan budaya yang berkembang, seperti inilah dulu (Qaaluu kama abaauna) yang dalam terminologi Alquran adalah manusia sufahaa. Keempat, Laskar purnawirawan, hampir diatas 80% mesjid di kelola oleh purnawirawan dan pensiuanan yang telah habis masa keemasan produktifitas. Memberikan efek pengembangan yang tidak koheren dengan perkembangan zaman. Kelima. Dukungan penafsiran yang tidak kritis-dialektika-kreatif terhadap nash-nash agama dan juga budaya yang ada. Keenam, Tidak berkembangnya kajian transformasi mesjid yang di komandoi oleh beberapa badan yang diakui dan menyatakan adalah pusat bagi mesjid yang ada.

itu beberpa prespektif yang menjadi latar belakang mesjid insitusi pengemis. Fakta-fakta adalah bahwa ketika mesjid telah surplus maka mesjid tidan melakukan stop untuk meminta atau mengalihkan kepada kegiatan yang memberikan value added (nilai tambah). Bagi sebahagian mesjid telah melakukan hal ini dari kelebihan uang di lakuakn transformasi sistem pengelolaan jamaah dengan menerbitkan buletin dari hasil kajian terstruktur dan itu tidak seberapa dan terdapat hanya di beberapa mesjid saja yang pernah penulis singgahi. Meminta sumbangan untuk pembangunan, kegiatan sosial keagamaan, dan juga kegiatan lainnya yang digunakan menggunakan metode terbaik dan metode klasik.

Ada sebuah fakta ironis lainnya bahwa dana surplus itu di titipkan pada sistem keuangan yang telah nyata haram. Sedangkan tetangga mesjid masih menjadi orang yang masuk sebagai asnaf yang delapan dan terjebak persoalan kemelut keuangan dengan sistem rentenir. Dimanakah peran mesjid yang menjadi solusi persoalan jamaahnya? Maka pesona dan persona mesjid telah pudar dan terhapus dari memori jamaahnya, karna mesjid hanya mampu meminta dan tidak mampu memberi solusi komprehensif.

Dalam beberapa pengalaman penulis yang bergaul di berbagai pasar tradisional, pasar modren, mesjid komplek perkampungan, mesjid persinggahan tepi jalan. Para tetangganya atau pengunjungnya sedikit banyak terlibat dalam usaha yang haram atau subhat dan ikut menyumbangkan dana untuk kegiatan pembangunan dan juga kegiatan mesjid. Maka jadilah mesjid sebuah gado-gado antara halal, haram dan subhat.

Dari ini memberikan efek mesjid kehilangan jamaahnya di beberapa solat, mesjid sebagai tempat mencari nama dan status sosial, korupsi keuangan mesjid, fitnah dan penyingkiran pengurus. Mesjid menjadi sumber penghidupan dan juga berbagai persoalan lainnya sepanjang kehidupan mesjid dan pergantian pengurus mesjid.

Terus bagaimana solusi tentang permasalahan tersebut? Apakah kita akan tetap membiarkan mesjid yang tempat mengagungkan nama Allah menjadi tempat mengemis kepada jamaah atau orang lain di jalan-jalan, sangat amat memalukan. Dalam islam memberi adalah yang terbaik baik secara personal maupun institusi. Dan yang menjadi penerima dan peminta adalah istitusi yang kita ruku dan sujud disana untuk taqarrub ilallah, Nauzubillahi minzalik

Bersambung dalam "Transformasi Mesjid" dan "Mesjid Sosial Responbility" dan "Mesjid Ekonomi Responbility", salam: Muhammad Yunus

Mesjid Social Responbility

Tanggung jawab social adalah topic yang menjadi perbincangan para ahli ekonomi, manajemen dan etika. Mengupas bagaimana dan mengapa perusahaan mesti mempunyai tanggungjawab social. Pembahasan ini dimulai pada tahun 1970 oleh beberapa ahli.

Perusahaan sebagai sebuah usaha yang hidup dari transaksi ekonomi dengan pelanggan. Tumbuh dan berkembang di suatu kawasan yang bernama masyarakat. Memanfaatkan berbagai fasilitas alam untuk menjadian nilai lebih dari segi ekonomi.

Batemen dalam buku Manajemen 1 edisi 7 mendefenisikan “Tanggung jawab social perusahaan (corporate social responbility) adalah kewajiban kepada masyarakat yang ditanggung oleh perusahaan. Perusahaan bertanggung jawab secara social memaksimalkan dampak positif pada masyarakat dan menimalkan dampak negatifnya”.

Sedangkan Prof. Dr Kees Bertens, MSC, dalam buku Pengantar etika bisnis “Tanggung jawab social perusahaan adalah tanggung jawab moral perusahaan terhadap masyarakat. Tanggung jawab social, yang di soroti adalah tanggung jawab moral terhadap masyarakat dimana perusahaan menjalankan kegiatannya, entah masyarakat dalam arti sempit seperti lingkungan di sekitar sebuah pabrik atau masyarakat luas.

Hal ini dari sisi perusahaan, Apakah mesjid mempunyai tanggungjawab social?, bagaimanakah mesjid bertanggung jawab secara sosial, mengapa Mesjid mempunyai tanggung jawab social? Beberapa pertanyaan di atas yang akan di kupas dalam tulisan ini.

Mesjid merupakan institusi agama islam. Ia adalah bagunan pertama yang di bagun oleh Rasulullah SAW. Rasul tidak membangun rumah pribadi beliau ketika sampai di madinah. Beliau mendirikan mesjid Quba dan kemudian mesjid madinah.

Beliau tinggal di mesjid, pada tataran sekarang adalah marbot atau ustad yang mempunyai tanggungjawab menjadi iman, dan memberikan nasehat untuk ummat. Berbalik dengan kondisi sekarang orang yang menjadi pengawai mesjid atau ustad yang bertanggungjawab sebagai imam dan juga membimbing ummat di pandang sebelah mata dalam prespetif tingkatan struktur social kemasyarakatan.

Mesjid pada zaman Rasulullah adalah multifungsi, meliputi seluruh aspek kehidupan. Menacari istana Negara madinah maka datanglah ke mesjid. mencari universitas pendidikan ummat maka datanglah ke mesjid, mencari barat prajurit maka datanglah kemesjid. Mencari pasar dan kekuatan ekonomi carilah ke mesjid. Mencari pengadilan maka datanglah kemesjid.

Namun seriring rentang peradaban Islam yang pernah gilang gemilang namun tidak meninggalkan bentuk tulisan yang memadai di miskinnya budaya literasi kita untuk menggali bagaimana isntitusi ummat ini menjadi pusat segala aktivitas kehidupan. Lima kali sehari kita di seru untuk berkumpul dan melakukan sebuah kegiatan bersama, bernama solat berjamaah.

Tanggungjawab social mesjid adalah bentuk pertanggungjawaban mesjid menjadi kepada jamaahnya dan tetangganya untuk menjadikan kehidupan social lebih baik secara islami, dan menghilangkan perilaku negative social dalam masyarakat.

Tanggungjawab ini meliputi bidang, pengembangan jamaah dan tetangga mesjid berupa;

Pertama. Aspek aqidah spiritual. Hal in sering diimplementasikan dengan khutbah jum’at. Kajian ibu-ibu, remaja dan bapak-bapak. Namun terdapat sebuah kelemahan dalam perencanaan hendak mau bawa kemana aspek ini?

Kedua, Aspek ekonomi. Beberapa mesjid telah mampu mendirikan lembaga amil zakat, infak dan sedekah dan juga koperasi atau BMT. Tidak bisa dimungkiri telah memberikan dampa positif bagi jamaah. Namun hal ini menjadikan sebuah institusi bisnis oriented dan pada tahap pengelolaan mesjid hanya menjadi sumber dari dana yang di putarkan di koperasi atau di BMT.

Ketiga, Aspek social kemasyaraktan dan politik. Hal ini yang hampir tidak terdapat dalam ruang lingkup kinerja pengurus mesjid. Berbeda dengan Lembaga Swadaya Masyarakat, NGO dan perusahaan lainnya. Mereka mempunyai sistematika, metodologi dan juga relawan yang menjadi pendamping bagi masyarakat untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Mengapa hal ini bisa terjadi. Mesjid gagal menjadi institusi pengembangan jamaah dan tetangganya sendiri.

Pertama, Kelemahan sumberdaya manusia pengelola mesjid. Hampir seluruh pengurus mesjid yang penulis pernah temui dalam lapangan adalah orang tua yang masuk dalam kategori purnawirawan, pensiunan yang telah habis masa produktif di perusahaan. Menjadi pengurus mesjid atau mushalla adalah untuk menjadikan diri berarti yang selama ini tidak memberikan konstribusi. Mental dan motifasi inilah yang menjadikan mesjid di huni oleh lascar purnawirawan dan juga termasuk sebuah organisasi Dewan Mesjid Indonesia.

Kedua, Kelemahan kemampuan skill dan pengetahuan. Sebagaian pengurus adalah yang tidak memiliki skill yang mememadi tentang manajemen organisasi, strategi pengembangan dan juga pengetahuan tentang aspek yang melingkupinya. Aktivitas kegiatan tidak terlepas melanjutkan apa yang pernah pengurus dahulu lakukan dan juga kegiatan rutinitas pembangunan.

Ketiga, mesjid hanya menjadi sarana public service untuk sekedar tempat ibadah solat berjamaah. Keputusan ini di ambil oleh pengurus semata. Dalam pengalaman penulis pernah di larang melakukan rapat remaja di dalam mesjid dan juga dukungan yang tidak memihak. Mesjid hanya di jadikan sebuah tempat untuk Buang Air Kecil, Buang Air Besar dan solat berjamaah dengan pengikut lebih banyak tiangnya dari pada jamaahnya di banyak tempat yang penulis pernah temui.

Keempat. Tidak adanya pelatihan berkala dan sistematis serta terstandar bagi pengurus mesjid dan muhsalla yang fi fasilitasi oleh Departemen Agama, MUI, PP DMI, dan ormas lainnya yang mengaku atau menampilkan ciri keislaman.

Kelima. Benturan konflik social pengurus dan juga aspek firkoh-firkoh dalam pemahaman Bergama. Itu mesjid organisasi itu, itu mesjid aliran itu dan sebagainya. Pelambangan ini mengakibatkan mesjid bukan sebagai tempat menyatukan ummat, namun menjadi sumber pemecah ummat dan konflik berkepanjangan.

Keenam, mesjid milik pribadi dan tidak waqaf milik ummat dan masyarakat hal ini sering terjadi mesjid menjadi sumber pendatapan ekonomi sebagai sebuah usaha publik servis.

Sebagai penutup tulisan ini, sudah sepantasnya kita yang hampir setiap hari atau sekali seminggu untuk memberikan infak skill, pengetahuan, waktu dan tenaga untuk menjadikan mesjid dan mushalla mampu menjadi sebuah katalisator kehidupan yang Allah janjikan kita adalah ummat terbaik yang Allah siapkan.

Kalau tidak kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak dimulai maka menunggu kapan lagi. Untuk kita yang Allah beri petunjuk. salam

Rabu, 20 Januari 2010

Jum'atan di Gunuang Tigo



Jum’atan di Gunuang Tigo
Inilah jum’at pertama tanggal 9 Oktober 2009, pasca Bencana Gempa Bumi Sumatera Barat di daerah Gunuang Tigo Kab. Pariaman. Kehancuran mesjid dan juga kehancuran rumah penduduk mengakibatkan tidak terlaksananya Jum’atan pada tanggal 2 Oktober 2010 tidak dilaksankan.
Pelaksanaan jum’atan 2 Oktober 2009 tidak dilaksankan diakibatkan oleh sarana mesjid yang hancur, karpet mesjid yang tidak dimungkinkan untuk di gunakan. Sistem sound system yang rusak dan tidak mungkin diperbaiki. Masyarakat yang masih trauma tidak bisa melaksanakan ibadah jum’at.
Aktivitas jum’at ini di lakukan oleh para relawan yang bergabung dalam beberapa institusi. Bantuan Karpet untuk tempat solat, tenda, sound system, dan beberapa kebutuhan untuk ibadah lainnya di sumbang oleh beberapa instansi yang dikoordinir oleh Universitas Muhammadiyyah Sumatera Barat.
Sebuah oase spiritual di kehidupan masyarakat pasca bencana, walau materi khutbah disampaikan dalam bahasa arab seperti apa yang tertulis dalam buku kecil sang khatib yang biasa disampaikan pada khutbah sebelum bencana.
Bakda kegiatan jum’at ada penyerahan paket bantuan untuk kebutuhan solat bagi masyarakat.
Kehancuran fisik bagunan rumah atau mesjid tidak separah kehancuran aspek aqidah dalam pelaksanaan ritual.
Muhammad Yunus